Tampilkan postingan dengan label Firman Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Firman Hidup. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Mei 2014

Firman Hidup



PASKAH Di Tengah Krisis Dunia Masa Kini

Bacaan:
Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan.
Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?"
Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat.
Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.
Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.
(1 Kor. 15: 54-58)

Penyertaan Tuhan Dalam Penderitaan
Paskah adalah peristiwa agung dalam lembaran sejarah Kerajaan Allah di tengah dunia, baik pada masa Perjanjian lama maupun Perjanjian Baru. Karya pembebasan yang dilakukan Allah atas umat-Nya Israel dari perbudakan Mesir merupakan awal dari pemahaman kita tentang Paskah. Paskah dalam bahasa Ibrani pesakh, artinya, lewat, lalu.

Ketika umat Israel akan meninggalkan tanah perbudakan Mesir, Allah memerintahkan mereka, supaya lebih dahulu mempersembahkan seekor anak domba yang tidak bercela bagi-Nya, serta memercikkan sedikit dari darah anak domba itu pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas di setiap rumah mereka yang memakan domba Paskah tersebut. Allah bersabda: “... Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu…” (Kel. 12: 1-28). Dengan demikian, anak sulung mereka tidak akan mati, dan mereka dibebaskan dari perbudakan Mesir itu.

Dengan demikian, peristiwa Paskah memperlihatkan penyertaan Tuhan terhadap umat-Nya, yang sedang mengalami krisis atau penderitaan selama mereka berada di Mesir, tempat perbudakan mereka.

Jadi, makna Paskah atas umat-Nya Israel dari berbagai krisis yang mereka alami ialah suatu proses exodus. Sebab kuasa Allah yang kekal dan ajaib itu telah memberi peluang kepada umat Israel untuk keluar dari belenggu yang menindas selama dalam perbudakan Mesir.

Hidup yang Penuh Pengharapan
Makna Paskah yang demikian jugalah yang terjadi saat Yesus Kristus, dengan kerelaan-Nya, menanggung segala sengsara dan penderitaan umat manusia, dengan kematian-Nya di kayu salib, dan menjadi kurban perdamaian manusia dengan Allah. Agar dengan kematian-Nya, Ia mengoyakkan dan merobohkan kuasa Iblis, dosa dan maut atau kematian itu.

Dengan demikian, Yesus tidak mau terbelenggu dalam kematian. Ia bangkit, dan menang. Inilah inti dan hakikat Paskah. Dengan peristiwa Paskah atau kebangkitan Yesus, umat manusia telah mengalami suatu proses exodus yang baru, yaitu keluar dari perhambaan Iblis, dosa dan maut, keluar dari berbagai penderitaan dan sengsara, keluar dari berbagai krisis kehidupan yang memprihatinkan akibat dosa atau kejahatan manusia. 

Paskah atau kebangkitan Yesus telah mengangkat kehidupan manusia dari keadaan yang penuh ketakutan, kebimbangan, dan kesia-siaan pada suatu kehidupan baru yang penuh pengharapan, bahwa “hidup di dunia ini tidak berakhir pada kematian, melainkan pada keselamatan yang kekal oleh karena Yesus Kristus” (bnd.Why. 21: 1).

Ancaman Berbagai Krisis
Perayaan Paskah saat ini bertepatan dengan suasana dunia yang sedang dilanda berbagai krisis yang memprihatinkan. Sebab keadaan dunia sekarang ini sedang dibayangi oleh ketegangan-ketegangan dan perselisihan yang mengancam kehidupan manusia. Persaingan senjata mutakhir, ancaman perang nuklir, ancaman senjata zat kimia, terorisme, pertentangan rasial dan agama, krisis iman, moral, etik, ekonomi dunia yang mengancam kehidupan manusia.

Masyarakat dan bangsa kita pun kini dilanda krisis multidimensi yang berkepanjangan. Krisis multidimensi tersebut telah membawa dampak kebingungan dan kepanikan bagi semua kalangan, terutama lapisan masyarakat kecil. Harga sembako melonjak. Banyak perusahaan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena tidak sanggup menanggung biaya operasianol perusahaan.

10 Makna Paskah
Perayaan Paskah mempunyai arti dan makna yang sangat besar bagi umat Kristen, terutama bagi mereka yang sedang dilanda badai kehidupan sebab:
  1. Paskah mengingatkan kita akan penyertaan Allah terhadap umat-Nya yang dilanda berbagai krisis hidup, baik pada masa Perjanjian Lama maupun pada masa Perjanjian Baru. Immanuel, Tuhan beserta kita.
  2. Peristiwa Paskah atau kebangkitan Yesus merupakan bukti kepedulian Allah terhadap ratapan manusia yang terkapar tanpa pengharapan dalam belenggu dosa.
  3. Peristiwa Paskah adalah pembebasan Yesus terhadap manusia yang dilanda berbagai sengsara dan penderitaan, yang hak asasinya terhilang, yang tertindas, yang tertekan batin, yang tersisih, yang tersingkir dan terlupakan, terabaikan.
  4. Paskah memberi pengharapan dan kekuatan baru bagi kita di tengah kehidupan yang penuh tantangan dan ancaman ini.
  5. Paskah mengajak kita mempertinggi kepedulian sosial, dengan tidak mementingkan diri sendiri, ataupun kelompok. Paskah memampukan kita memberikan pemikiran dan upaya serta kerja sama yang baik dengan siapa pun dalam mengatasi berbagai krisis yang mengancam kehidupan sesama manusia.
  6. Paskah mengajak kita menjauhi sikap materialistis, konsumeristis yang mengakibatkan kedangkalan dan kekosongan iman sebagai orang Kristen.
  7. Paskah mengajak dan memampukan kita mengikis kandas sikap dan pola pikir eksklusif, diskriminatif, primordialistis, dan segala bentuk egoisme lainnya ataupun nepotisme. Karena semuanya itu tidak sesuai dengan arti dan makna hakiki dari penebusan dan pembebasan Yesus Kristus melalui Paskah yang meliputi keseluruhan eksitensi umat manusia.
  8. Paskah mangajak kita menegakkan disiplin dan ekualitas yang tinggi serta dalam segala kearifan meningkatkan etos kerja yang baik, sehingga kita mampu memberi sumbangan yang berharga dalam mengatasi krisis yang melanda bangsa kita.
  9. Paskah mengajak kita berupaya mewujudkan spiritualitas yang mendalam serta moralitas hidup yang tinggi, sehingga kehadiran kita tetap menjadi berkat  bagi orang lain.
  10. Paskah memberikan optimisme serta kekuatan baru kepada kita, sebab Yesus telah bersabda kepada murid-murid-Nya dan kepada kita sekalian: “ … Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28: 20). Amin.    

(Pdt. Dr. Farel Panjaitan, Firman Hidup 68, BPK Gunung Mulia, 2008. Penulis adalah dosen di Universitas HKBP Nommensen, Medan)

Kamis, 10 April 2014

Firman Hidup


Menjadi Sesama bagi Orang Lain

Bacaan:
Amos 7:7-17; Mazmur 82; Kolose 1:1-14; Lukas 10:25-37

Per­nyataan ”Siapakah sesamaku manusia” di ayat 29 sebenarnya muncul dari ungkapan salah seorang ahli Taurat untuk mem­be­narkan diri di hadapan Yesus. Tetapi Yesus tidak memberi jawaban langsung. Dia justru memberi  perumpamaan tentang seorang laki-laki Yahudi dalam per­ja­lanan dari Yerusalem ke Yerikho yang dirampok, dianiaya, dan di­­biarkan tergeletak di jalan. Saat seorang imam lewat di jalan itu, ia hanya melihat dan tidak menolong. 

Demikian pula ketika se­­orang Lewi lewat. Ia hanya melihat orang malang itu dan tidak berbuat sesuatu. Tak lama kemudian, datanglah seorang Samaria yang juga melewati jalan itu. Saat ia melihat pria Yahudi yang malang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Karena itu, ia segera membalut luka-luka pria Yahudi tersebut. Ia mengolesinya dengan minyak, kemudian membawanya ke tempat penginapan agar memperoleh pengobatan dan perawatan yang lebih baik. Sebelum melanjutkan perjalanannya, ia menyerahkan uang dua dinar kepada pemilik pe­nginapan sambil berkata, ”Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan le­bih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali” (ay. 35).

Saat kita membaca dan merenungkan kisah pe­rum­pamaan Yesus tersebut, sering timbul sikap tidak simpati pada tin­­­dakan imam dan orang Lewi, dan di lain pihak timbul si­kap sim­pati ki­ta terhadap orang Samaria yang murah hati itu. Pa­da­­­­hal da­lam praktik hidup sehari-hari termasuk dalam hidup ber­­­­je­­maat, kita justru sering mempraktikkan tindakan imam dan orang Lewi itu. Bukankah pola spiritualitas kita cenderung menganut ”ideologi” ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus, ”Siapakah sesamaku ma­nu­sia?” Pertanyaan itu sebenarnya mengandung pengkla­si­fi­kasian ma­nusia, yaitu siapakah yang termasuk sesamaku, dan siapa yang tidak. Bagi orang Kristen, se­samaku sering dimengerti sebagai ti­ap-tiap orang Kristen khususnya mereka yang satu gereja atau sedenominasi de­ngan kita.

Jadi, arti ”sesama” di sini dipakai untuk menunjuk orang yang ber­ada dalam lingkup agama, kepercayaan, keyakinan, atau etnis yang sama. Sedangkan mereka yang tidak seagama, seiman, satu ke­percayaan dan keyakinan, bahkan mereka yang berbeda suku dan etnis tidak dianggap sebagai sesama. Dampak pemikiran ini ada­lah sikap primordialisme, yang cenderung hanya mengagung-agungkan agama dan kepercayaan, menonjolkan superioritas alir­­­an dan denominasi, serta dukungan yang membabi buta ter­hadap suku dan etnis kita sendiri. Paham kita sering kali: Right, or wrong this is ... (my religion/my tribe/my nation/my country).

MENEMBUS BATAS
Jadi pertanyaan ahli Taurat, ”Siapakah sesamaku manu­sia” merupakan benih-benih dari sikap yang primordialisme dan paham eksklusivisme yang hanya memilah-milah manusia, ber­da­sarkan kri­te­­ria agama, kepercayaan, keyakinan, suku, etnis, ekonomi atau po­litis. Dalam perumpamaan-Nya, di Lukas 10:30-37, Yesus menunjukkan bahwa orang Samaria itu justru mampu menjadi sesama bagi musuhnya. Orang Samaria tersebut tidak terjebak dalam sikap eks­klusif dan primordialistik. Kemurahan hatinya mengalir jernih menembus batas-batas kesukuan, etnis, dan agama serta kondisi permusuhan yang kronis. Yang sangat mengherankan justru sikap dari imam dan orang Lewi.

Walaupun mereka satu etnis dan seagama dengan pria Yahudi yang malang itu, ternyata mereka sama sekali tidak tergerak oleh belas kasih­an dan tidak melakukan tindakan apa pun untuk memberi per­to­­longan. Bagi imam dan orang Lewi makna dari sesamanya mung­­­kin hanya me­reka yang ”selevel” atau ”satu sta­tus” dan ”sa­tu ke­­du­dukan” dengan me­­­reka. Sebaliknya, orang yang tidak mem­­pu­­nyai kedudukan sosial yang sama, walaupun satu etnis dan sa­tu agama dengan mereka, tetap tidak di­­anggap sebagai sesama.

Be­tapa sering pola pembedaan atau kla­sifikasi yang men­dis­kri­mi­na­si manusia terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita gagal un­tuk menegakkan prinsip belas kasihan yang universal dan sikap yang adil. Kita hanya berbelas kasihan pada orang ter­tentu, dan ber­sikap kejam kepada yang lain. Kita bersikap a­dil terhadap ke­lom­­pok kita sendiri, tetapi tidak adil kepada ke­lompok yang lain.

Mazmur 82 melukiskan suasana persidangan ilahi, ya­itu pantheon yang menyatakan Allah sebagai Tuhan berdiri di an­tara para ilah; dan Allah kemudian menghakimi para ilah ter­se­but, ”Berapa lama lagi kamu menghakimi dengan lalim dan me­mihak kepada orang fasik?” Dalam persidangan ilahi tersebut, para ilah di­hakimi Allah sebab mereka telah menghakimi dengan sikap yang lalim dan mereka ternyata justru memihak orang fasik. Kesaksian Alkitab ti­dak menyangkal eksistensi dari para ilah, yaitu para dewa sebagai ”anak-anak Yang Mahatinggi” (ay. 6). Tetapi di pihak lain ditegaskan bahwa ”para ilah seperti manusia akan mati, dan seperti salah seorang pembesar mereka juga akan tewas” (ay. 7).

Dalam pemikiran Alkitab para ilah tidak bersifat kekal, mereka semua akan mati. Jadi hanya Allah saja yang kekal, mulia, dan benar. Itu sebabnya, para ilah dapat menghakimi dengan lalim dan memihak kepada orang fasik. Padahal yang dikehendaki Allah adalah agar tiap makhluk senantiasa bertindak adil dan benar, serta tidak membedakan-bedakan makhluk lain­nya secara tidak adil atau bertindak secara diskriminatif. Di ayat 3-4, Allah berfirman, ”Berilah keadilan kepada orang yang le­mah dan kepada anak yatim, belalah hak orang sengsara dan orang yang kekurangan! Luputkanlah orang yang lemah dan yang miskin, lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik!” Dengan demikian, Allah adalah Tuhan yang membenci tiap sikap primordialistik dan eksklusif, yang memilah-milah manusia secara diskriminatif da­lam kategori buatannya sendiri. Allah menghendaki tiap orang bersikap adil ter­hadap mereka yang lemah, menolong yang kekurangan, dan pe­duli kepada tiap orang sengsara—siapa pun mereka, walaupun secara faktual berbeda keyakinan, agama, aliran, suku dan etnis, serta tingkat sosial dan politis. Dasar pemikiran teologisnya jelas, yaitu bahwa Allah adalah yang memiliki segala bangsa. Dalam ayat 8 dikatakan, ”Bangunlah ya Allah, hakimilah bumi, sebab Engkaulah yang memiliki segala bangsa.”    

Dengan demikian perumpamaan Yesus melalui Maz­­mur 82 sangat integral. Dia memanggil tiap orang untuk mem­per­lakukan sesamanya dengan prinsip kasih dan keadilan tanpa mem­­persoalkan latar belakang, etnis, suku, dan agama. Allah ada­lah Pencipta dan yang memiliki kehidupan semua manusia dan makh­luk. Karena itu, siapa pun yang memilah-mi­lah manusia ber­­­­­dasarkan ka­te­gori buatannya sendiri sehingga menghasilkan tin­­dakan yang dis­kri­minatif, sewenang-wenang, dan yang tidak ber­­­­belas kasihan kepada sesamanya, ia telah menjadi musuh Allah. Tindakan yang lalim, tidak adil, dan pilih kasih, serta mem­be­narkan tindakan orang yang fasik merupakan pola kerja dari para ”ilah”, bukan Allah. 

Bagi tiap orang yang lemah, sengsara, anak yatim, dan kekurangan Allah se­sungguhnya menjadi pembela dan penyelamat mereka. Jadi, makna mengikut Kristus berarti kita bersedia menjadi kawan se­kerja Allah untuk membela tiap orang yang lemah, sengsara, ter­­tindas, dan diperlakukan tidak adil. Dalam Kolose 1:9-11, Rasul Paulus mengungkapkan suatu konteks yang berbeda tetapi dengan pe­mahaman teologis serupa. Jadi, makna hidup yang layak dan berkenan di hadapan Allah adalah ketika kita hidup dengan memberi buah dalam segala pekerjaan baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar akan Allah.

Kristenisasi?
Karena itu sebenarnya, tidaklah tepat jika makna pembe­ri­taan Injil selalu dipahami sebagai upaya ”kristenisasi” kepada se­sama yang berbeda agama. Pemberitaan Injil sebagai kabar baik jus­tru harus dipahami sebagai manifestasi dari karya keselamatan Allah yang telah terjadi dalam peristiwa hidup Kristus demi mem­bebaskan tiap orang yang tertindas oleh kuasa dosa, mereka yang tertawan oleh belenggu nafsu, dan mereka yang terpenjara oleh sistem dari kuasa dunia.

Kini sebagai aktualisasinya, peristiwa hi­dup Kristus yang membebaskan sesama yang terpenjara dan ter­be­lenggu kuasa dosa juga harus menjadi ”peristiwa hidup kita sen­diri”,—yang mana kita juga bersedia menjadi ”perpanjangan ta­ngan” dari Kristus untuk menolong sesama yang men­derita. Jika demikian, bagaimanakah peran kita sebagai jemaat Tuhan? Apa­kah di dalam hidup sehari-hari kita telah berperan sebagai imam dan orang Lewi yang tidak mau peduli dengan sesama yang menderita? Apakah kita hanya peduli terhadap orang tertentu yang kita kasihi, tetapi bersikap dingin dan tidak adil terhadap mereka yang kita anggap rendah? 
Ataukah, kita mampu bersikap seperti orang Samaria yang memiliki kemurahan hati; yang ke­mu­rahan hatinya mampu menembus batas-batas kesukuan, et­nis, dan agama, serta ke­pentingan diri sendiri? Karena itu, sikap yang benar sebagai orang Kristen, bukanlah ”Siapakah sesamaku ma­nusia?” melainkan ”Apakah kita bersedia menjadi sesama bagi tiap orang yang lemah, men­derita, dan sengsara?” Amin. (Pdt. Yohanes Bambang Mulyono, pendeta GKI Perniagaan, Jakarta)

Rabu, 26 Maret 2014

Firman Hidup



Bukan MENGAPA,  Melainkan BAGAIMANA?


Bacaan: Mazmur 62:6-9


Kita sering mendengar orang berkata, ”Baru ke­marin si Badu berulang tahun. Namun, sekarang ia su­dah tiada!” Atau perkataan, ”Dulu Lita seorang olah­ragawan yang hebat, tapi mengapa kini ia cacat?” Atau juga perkataan, ”Selama puluhan tahun ini Andy menjadi peng­usaha yang terkenal, tapi mengapa sekarang hidupnya ke­kurangan?” Orang merasa heran dan bertanya-tanya, meng­apa peristiwa-peristiwa seperti itu bisa terjadi? Mengapa orang tak selamanya sukses? Mengapa kejayaan manusia itu tidak abadi?

Warna Warni Kehidupan
Hal ini makin menegaskan bahwa kehidupan manusia tidak melulu senang. Hidup manusia tak selamanya bahagia. Ada saat-saat tertentu berbagai masalah, kemelut, dan pergumulan datang dalam kehidupan ini. Tidak jarang datangnya bertubi-tubi. Masalah yang satu belum selesai, datang masalah yang lain. Masalah yang lain belum beres, muncul masalah yang lainnya lagi. Begitulah seterusnya.

Semua manusia pasti ingin hidup senang, bahagia, dan sejahtera. Tidak ada yang ingin hidupnya penuh masalah, penderitaan, dan air mata. Tapi sayang, keinginan itu tidak selalu terpenuhi. Suka atau tidak suka, kesimpulannya tetap. Hidup manusia di dunia ini tidak selamanya senang, indah, dan bahagia. Hidup ma­nusia di dunia ini kadang kala diwarnai masalah, pergumulan, dan penderitaan. Berbagai masalah tetap akan dihadapi dan dialami oleh setiap orang. Siapa pun dia. Tanpa kecuali.

Sikap Yang Benar
Yang menjadi persoalan itu bukanlah mengapa hidup manusia di dunia ini penuh masalah dan penderitaan? Bukan! Persoalan sebenarnya adalah bagaimana sikap manusia dalam menghadapi masa­lah dan penderitaan dalam hidup ini? Sekali lagi, yang jadi pertanyaan bukan, ”Mengapa saya menderita?”, melainkan, ”Bagaimana sikap saya dalam menghadapi penderitaan?”

Banyak orang menjadi bingung, panik, bahkan putus asa ketika menghadapi masalah dan pende­ritaan. Bahkan tidak sedikit yang sampai menempuh jalan pintas dengan mengakhiri hidupnya. Tahun 1990, misalnya, sebuah sekte keagamaan di Meksiko melakukan bunuh diri massal. Para anggota sekte itu mencoba lari dari kenyataan hidup yang berat dan mencari kehidupan yang lebih tenang dengan melakukan bunuh diri. Mereka berkata bahwa ”tuhan” me­reka telah menunggu kedatangan mereka ”di sana”. Ini con­toh orang yang menempuh jalan pintas karena tak kuat menghadapi masalah berat dalam hidupnya.

Mendekat Pada Allah
Tentu bukan demikian sikap yang harus dimiliki oleh orang percaya dalam menghadapi masalah dan penderita­an. Daud contohnya! Dalam hidupnya, Daud pun banyak menghadapi masalah dan penderitaan. Bagaimana si­kap Daud dalam mengatasi keadaan yang berat itu? Apakah Daud menjadi panik dan putus asa? Apakah Daud men­cari perlindungan pada orang-orang yang berkuasa? Atau­kah Daud lalu meminta pertolongan kepada ”orang-orang pintar”? Ternyata tidak! Alkitab menunjukkan bahwa Daud datang mendekat dan menyerahkan semua pergumulannya kepada Allah.

Inilah sikap yang tepat dan benar. Daud tahu bahwa kuasa Allah jauh lebih besar daripada semua masalah dan penderitaan yang dialaminya. Setelah Daud mendekat dan berserah kepada Allah, Daud merasa tenang. Dia merasa Allah hadir dalam hidupnya dan menyertainya. Oleh ka­rena itu, Daud berkata, ”Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.”

Arti perkataan Daud ini ialah ketika Daud mendekat dan menye­rahkan masalahnya kepada Allah, ia merasakan Allah itu seperti gunung batu, tempat berlindung yang kokoh, yang tetap tegar sekalipun dihantam ombak, gelombang, dan ba­dai. Daud juga merasakan bahwa Allah itu seperti kota yang berbenteng kuat, yang melindungi orang-orang di dalamnya. Pada zaman itu kota yang tidak ada bentengnya adalah kota yang lemah, yang mudah diserang dan dihancurkan musuh.

Percaya Setiap Waktu
Daud mampu menghadapi dan mengatasi masalahnya bukan karena ia hebat, bukan karena ia kuat, melainkan karena Allah yang memberi kekuatan dan menolongnya. Daud menegaskan hal ini pada ayat 8, ”Pada Allah ada ke­selamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah.” Berdasarkan peng­alamannya itu, Daud lalu mengajak semua orang percaya untuk mencontoh sikapnya, yaitu percaya pada Allah, dan menyerahkan semua penderitaan dan masalah dalam hidup ini kepada Allah. Allah pasti bertindak. Allah pasti meno­long umat-Nya.

Kata Daud, ”Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.” Di sini Daud juga menekankan bahwa percaya kepada Allah itu harus setiap waktu, bukan sewaktu-waktu. Tak ada artinya percaya pada Allah jika hanya sewaktu-waktu. Sebab percaya yang se­waktu-waktu, sebenarnya sama saja dengan tidak percaya kepada Allah.


Pergumulan yang Sama
Keadaan dan situasi kita sekarang jelas berbeda dengan keadaan dan situasi bangsa Israel pada masa pemerintahan Raja Daud. Namun demikian, tetap saja ada kesamaannya. Pada zaman ini kita pun mempunyai tantangan hidup – sa­ma seperti yang dialami Daud. Kita pun menghadapi banyak masalah dan pergumulan, bahkan pergumulan berat – sama seperti Daud. Semua itu dapat membuat kita menderita.

Kalau mau jujur, kita pasti sepakat bahwa tak seorang pun ingin menderita. Tak seorang pun mau hidup dalam pergumulan. Sebaliknya, setiap orang menginginkan kese­nangan dan merindukan kebahagiaan. Napoleon Bonaparte pernah berkata, ”(Sebenarnya) penderitaan itu lebih me­ngerikan daripada kematian.” Artinya, menurut Napoleon, lebih baik mati daripada hidup dalam penderitaan. Sayang­nya, penderitaan dan masalah hidup tak dapat kita hindari. Penderitaan dan masalah hidup selalu datang tanpa permisi dan tanpa diundang.

Berharap pada Allah
Dalam mazmurnya Daud menasihati dan mengajak semua orang percaya untuk mendekat dan berharap kepada Allah. Itulah sikap yang benar dalam menghadapi penderitaan dan masa­lah hidup. Nasihat Daud tersebut juga berlaku bagi kita pada masa kini.

Tidak ada artinya jika kita sekadar menjadi Kristen tanpa pernah berharap dan berserah kepada Tuhan Yesus. Tidak ada artinya kita selalu berdoa bila itu hanya sebatas ucapan di bibir tanpa disertai iman. Juga tak ada artinya kita rajin beribadah bila itu sekadar rutinitas dan kebiasaan, sedangkan sikap hidup kita tidak sesuai de­ngan ibadah kita.

Bunga Plastik
Janganlah kita menjadi orang Kristen ”bunga plastik” yang dari jauh kelihatan indah, tetapi se­benarnya cuma bunga palsu. Bunga itu tampaknya hidup, tetapi sebetulnya mati. Jangan sampai hidup kita juga de­mikian. Sepintas lalu kita tampaknya beriman teguh. Na­mun, ada masalah sedikit saja kita sudah jatuh. Orang Kris­ten ”bunga plastik” adalah orang Kristen yang hidup tanpa kepercayaan dan pengharapan kepada Tuhan. Tuhan Yesus sama sekali tidak berkenan terhadap orang Kristen yang demikian.

Sebaliknya, yang Yesus inginkan adalah orang Kristen yang menaruh kepercayaan dan pengharapan penuh kepa­da-Nya. Baik waktu suka maupun waktu duka. Baik ketika merasakan sukacita maupun ketika berada dalam penderi­taan dan pergumulan. Tuhan Yesus tidak pernah dan tidak akan pernah meninggalkan orang-orang yang selalu berha­rap kepada-Nya. Dialah gunung batu dan kota benteng yang kokoh bagi umat-Nya. Dalam Matius 11:28, Tuhan Yesus sendiri berkata dan memberi jaminan kepada orang yang datang kepada-Nya, ”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Sungguh indah perkataan Tuhan Yesus ini.

Jejak Kaki
Saya teringat sebuah cerita. Pada suatu malam, seseorang tidur dan bermimpi. Ia sedang berjalan bersama Tuhan di tepi pantai. Setelah berjalan beberapa saat, orang itu lalu melihat ke belakang. Tampaklah berjajar empat je­jak kaki di sepanjang pasir pantai tersebut. Sepasang jejak kakinya dan sepasang jejak kaki Tuhan. Namun, ketika me­reka berjalan semakin jauh dan melelahkan, ia menoleh lagi ke belakang. Yang ia lihat di atas pasir pantai hanya tinggal sepasang jejak kaki saja.

Orang itu terheran-heran dan berta­nya kepada Tuhan, ”Tuhan, mengapa yang kelihatan seka­rang hanya sepasang jejak kaki saja? Bukankah pada saat itu aku sedang mengalami pergumulan yang hebat? Di mana Engkau ketika itu Tuhan?” Tuhan menjawab, ”Anak-Ku, engkau telah begitu lelah dalam perjalanan ini. Jadi, Aku menggendong engkau. Kau tidak perlu berjalan lagi. Aku­lah yang berjalan bagimu.” (Yohannes Vivere Pericoloso Palar, Pendeta Jemaat GPIB Bukit Benuas, Balikpapan (2008-sekarang).