Tampilkan postingan dengan label Esensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esensi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Agustus 2014

Esensi



Gaya Hidup Pemimpin


            Tiap orang mempunyai sifat, watak, perilaku dan kepribadian masing-masing.  Ada orang yang pendiam, ada yang suka bicara.  Ada yang pongah, ada yang pemalu.  Ada yang santun, ada yang kasar.  Dan seterusnya.

            Ketika seseorang menjadi pemimpin di gereja, perusahaan, perkumpulan, parpol, negara, atau apapun, pastilah sifat, watak, perilaku, dan kepribadiannya itu terbawa juga.  Gaya hidup seseorang akan tampak dalam gaya kepemimpinannya secara verbal maupun non verbal.

            Perbedaan gaya hidup itu akan menjadi lebih tampak jika ada dua orang sedang disorot dan dibandingkan, misalnya dua orang calon gubernur atau calon presiden. Terkadang perbedaan itu mencolok sehingga gaya hidup kedua orang itu menjadi saling berseberangan.

            Marilah kita tinjau perbedaan gaya antara dua orang pemimpin dengan memperhatikan lima contoh aspek gaya hidup.  Lalu dalam tiap aspek itu kita melihat mana gaya hidup yang ada dalam diri Yesus selama ia menjadi pemimpin sepanjang masa kerja-Nya di bumi Palestina dua ribu tahun yang lalu.

Pertama, gaya hidup perlente versus bersahaja.
Pemimpin A berbadan tegap dan berpundak lebar kekar. Sehari-hari ia mengenakan setelan jas safari yang terbuat dari bahan impor berkualitas top yang diukur serta dijahit oleh tailor eksklusif. Ia selalu tampak anggun dan agung bagaikan pembesar atau jendral. Dengan pakaian sebagus itu langsung tampak bahwa ia berkelas tinggi. Ia tampak keren, perlente, dan cakep. Ia mengutamakan penampilan dan mode.

            Sebaliknya pemimpin B berbadan kerempeng. Tiap hari ia mengenakan kemeja putih yang biasa dari toko penjual pakaian jadi.  Celananya hitam atau kelabu. Pakaiannya tidak tampak beda dengan orang-orang biasa. Itu pakaian orang bersahaja. Ia memang sudah biasa hidup sederhana dan merakyat.

            Bagaimana dengan Yesus? Yesus adalah seorang mantan tukang kayu dan sehari-hari Ia berada bersama para rasul-Nya yang adalah nelayan. Mereka berjalan dari desa ke desa dan menginap di rumah penduduk desa. Yesus berpakaian seperti orang kebanyakan. Ia tidak mengutamakan pakaian. Kata-Nya, “Janganlah khawatir ... mengenai apa yang hendak kamu pakai” (Luk. 12;22, TB2). Bahasa aslinya, “Me merimnate ... ti endusesthe”.  Terjemahan alternatif, “Janganlah kamu mengutamakan ... apa yang akan kamu pakai”.

Kedua, gaya hidup galak tegas versus belas asih.
Pemimpin A selalu pasang muka yang siap menegur. Ia galak.  Sikapnya otoriter. Suaranya cenderung membentak. Ketika berpidato struktur kalimatnya retorik, formal, dan bersubstansi slogan. Ragam kalimatnya  sering imperatif dengan intonasi tinggi pada akhir suku kata.  Ia selalu membusungkan dada.

            Sebaliknya, pemimpin B bersikap merendah. Ketika melihat orang banyak ia bukan cenderung menegur melainkan mengasihani. Perasaannya yang dominan adalah belas asih. Ia berbela rasa dengan nasib orang banyak. Ia tidak senang berpidato, namun ketika harus berpidato, bahasanya cair, gampang, dan sederhana, tetapi persuasif dengan intonasi lambat bernada rendah. Ragam kalimatnya kebanyakan ragam ajakan, ragam permintaan, dan ragam pengharapan.

            Bagaimana dengan Yesus?  Yesus tidak membusungkan dada, sebaliknya Ia mengelus dada karena rasa iba melihat kondisi hidup rakyat jelata. Tertulis, “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka karena mereka lelah dan terlantar...” (Mat. 9:36). Injil ini mencatat tiga kejadian di tiga tempat berbeda di mana Yesus merasa iba melihat nasib rakyat jelata.

Ketiga, gaya hidup gagah versus polos.
Pemimpin A menyukai suasana yang serba gagah dan hebat.  Kemewahan mobilnya mencolok. Motornya motor gede dengan bunyi knalpot menderu. Ketika ribuan orang sudah menunggu dia di stadion, datanglah ia memasuki lapangan itu. Naik apa? Ia menunggang kuda tinggi besar yang berderap-derap. Sungguh berhasil ia menimbulkan kesan bahwa ia gagah perkasa.

            Sebaliknya, pemimpin B malah tersipu-sipu kalau ditonton oleh orang banyak. Ia tidak mau tampak mencolok. Mobilnya biasa-biasa saja. Ia tidak mau menimbulkan kesan gagah perkasa karena memang ia tidak gagah perkasa.

            Bagaimana dengan Yesus? Pada zaman itu hewan tunggangan adalah kuda atau keledai. Kuda lebih mahal, lebih cepat, dan lebih gagah. Para perwira tentara Romawi menunggang kuda, tetapi rakyat biasa menunggang keledai.

Ketika naik ke bukit Yerusalem Yesus menunggang keledai. Itu alat transportasi yang paling murah. Penulis Injil mengutip nubuat yang berkata, “Rajamu sedang datang kepadamu, ia rendah hati dan menunggang seekor keledai” (Mat. 21:5, BIMK).

Keempat, gaya hidup reaktif versus gitu aja kok repot.
Pemimpin A terkesan kurang bisa mendengarkan dengan sabar. Ia justru cepat bereaksi apalagi kalau mendengar kritik dan kecaman. Ia cakap mengingkar dan membantah. Dengan wajah yang langsung tegang dan merah ia menantang.

            Sebaliknya pemimpin B kurang cakap bicara namun cakap mendengarkan. Dengan kepala menunduk ia memasang telinga untuk berkonsentrasi mendengarkan keluhan seseorang. Ketika difitnah ia tidak reaktif. Dengan tenang ia berkata, “Ora opo-opo.” Atau, “Enggak kenapa-napa.”

            Bagaimana dengan Yesus? Pernah Yesus dihina oleh penduduk desa Samaria. Ia memohon diperbolehkan menginap di sebuah desa orang Samaria. Tetapi Yesus ditolak. Tentu saja para rasul tersinggung dan marah. Mereka menghasut Yesus, “Tuhan, apakah Engkau mau supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?”
 
Apakah Yesus mengiyakan hasutan itu?  Sama sekali tidak. Tertulis, “Akan tetapi Ia berpaling ...” (Luk. 9:54,55). Yesus pergi dan mencari desa lain.

Kelima, gaya hidup berada di atas versus berada di antara.
Pemimpin A berlatar belakang dan berasal dari keluarga atas. Ia tampak menjaga jarak jika berada dengan orang kebanyakan. Kalau ia mengunjungi sebuah kampung kumuh tampak dari bahasa tubuhnya bahwa ia merasa jijik dan canggung. Kunjungannya itu hanya formalitas belaka. Ia memang orang kelas atas sehingga canggung turun ke tingkat rakyat biasa.

            Sebaliknya, pemimpin B berasal dari keluarga wong cilik.  Ia merasa biasa-biasa saja bersila dan makan di rumah penduduk desa.  Dengan santai ia berjongkok memeriksa gorong-gorong di kampung kumuh. Terkadang ia sendiri turun ke dalam gorong-gorong itu. Ia merasa biasa berada di antara penduduk kampung kumuh.

            Bagaimana dengan Yesus? Selama tiga tahun Yesus bekerja sebagai guru keliling dari desa ke desa di seluruh pelosok Palestina.  Bersama para rasul-Nya tiap hari Ia berada di antara penduduk desa. Yesus menginap di rumah penduduk. Ia tidak menetap di satu tempat. Ia tidak punya rumah. Tertulis, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyi sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya” (Mat. 8:20, TB2).

Yesus bukan berada di atas rakyat melainkan di antara rakyat. Oleh sebab itu Ia disebut Imanuel, artinya Allah beserta kita atau Allah berada di antara kita.

JANGAN TERKECOH PENAMPILAN
Semua perbandingan tadi sama sekali bukan bermaksud mempertentangkan atau menyamakan Yesus dengan seseorang, sebab kadar maturitas kepribadian Yesus tidak terbandingkan. Lagipula tadi hanya disebut lima aspek padahal jenis dan jumlah aspek kepribadian seseorang jauh lebih banyak dan strukturnya jauh lebih kompleks.

            Inti tulisan ini adalah bahwa tiap pemimpin mempunyai kepribadian berbeda sehingga gaya kepemimpinannya pun berbeda. Tiap gaya itu mempunyai keunggulan dan kelemahannya masing-masing.
            Pemimpin yang menggebu-gebu dan berambisi tampak menyemangatkan namun segala cara bisa jadi ia halalkan demi kepentingan ambisinya. Ia selalu mau tampil sebagai sang pahlawan yang mengatasi persoalan dengan cepat termasuk persoalan di mana sebetulnya dia sendiri adalah penyebabnya. Ia tampil memukau. Orang jadi tersilau dan memuja beliau.

            Sebaliknya ada pemimpin yang biasa-biasa saja, tidak aneh-aneh, dan tidak menonjol. Gaya kepemimpinannya terkesan sepi-sepi. Sederhana. Bersahaja. Jelata. Tidak berkilau. Tidak memukau. Ia terkesan lemah sehingga orang kurang merasa tertarik.

            Tiap pemimpin memang berbeda. Ada yang terkesan seru, ada pula yang terkesan lesu. Namun kesan yang kelihatan belum tentu merupakan kenyataan yang tidak kelihatan. Oleh sebab itu terpulang kepada hati nurani kita masing-masing untuk membuat pertimbangan dan pilihan. (Andar Ismail)

Jumat, 13 Juni 2014

Esensi



Kalau Agama Dijadikan Kewajiba

Hampir tiga ratus tahun umat Kristen dibenci. Pegawai negeri yang beragama Kristen dipecat. Gereja dibakar. 

Akan tetapi pada tahun 312 tiba-tiba angin berubah arah. Muncul penguasa baru bernama Konstantinus yang merangkul gereja. Umat Kristen tidak diliciki lagi. Sebaliknya, umat Kristen malah dimanja. Pemerintah membangun gedung gereja. Pendeta digaji oleh negara. Undang-undang mewajibkan tiap orang beribadah di gereja tiap hari Minggu. Agama dijadikan kewajiban.
Lalu berbondong-bondonglah tiap orang menjadi beragama. Tiap orang memamerkan dirinya beragama. Tiap orang berceloteh menyebut-nyebut nama Allah.

Maka pada tahun 380 Kaisar Theodosius menetapkan agama Kristen sebagai agama negara. Bercampur-aduklah agama dan negara. Negara membiayai agama dan agama memengaruhi negara. Maka agama itu menjadi kuat dan besar. Maka tersingkirlah aliran, kepercayaan, dan agama-agama kecil. Maka muncullah teokrasi. Maka pudarlah demokrasi.

PIAGAM KEWAJIBAN BERAGAMA
Akhir-akhir ini, kalau hari sangat panas saya sering tertidur di kursi pada siang hari. Untung hanya beberapa menit saja, tetapi dalam beberapa menit itu bisa terjadi rupa-rupa hal.

Pada suatu siang, saya merasa duduk di gereja. Sebentar lagi ada pertemuan gereja-gereja . Di daerah ini memang ada banyak gereja. Boleh dikata, semua penduduk daerah ini beragama Kristen, mulai dari gubernur sampai petugas RT/RW.

Para penatua dan pendeta dari tiap gereja sudah mulai berdatangan. Demikian pula pejabat-pejabat pemerintah seperti kepala polisi, panglima tentara, para hakim dan jaksa, gubernur, walikota, bupati dan sebagainya.
Acara tunggal pertemuan ini adalah pengesahan piagam. Piagam apa? Saya tidak tahu.

Setelah berdoa, ketua sidang langsung berkata,”Anggota majelis yang terhormat, hari ini kita akan mengesahkan piagam yang terdiri dari tujuh kata: Tiap penduduk wajib melaksanakan peraturan agamanya masing-masing.”
Semua hadirin langsung bersorak, “Puji Tuhan!” Tetapi saya menjadi sangat terkejut dan bingung. Masakan agama dijadikan kewajiban? Ini sangat keliru. Beragama adalah penghayatan dan kesadaran, bukan keharusan dan kewajiban. Keringat saya menetes.

Tiba-tiba seorang ibu yang tampak bijak bertanya, ”Mohon dijelaskan, apa implikasinya dan bagaimana pelaksanaannya?”
Ketua sidang menjelaskan, “Itu berarti tiap orang wajib hadir dalam ibadah Minggu, wajib mengirim anak ke Sekolah Minggu, wajib membaca Alkitab tiap hari di rumah dan sejumlah kewajiban lain.”

Seorang pemuda menimpali, ”Apakah juga wajib memberi persembahan?”
Ketua langsung menjawab, ”Tentu saja. Tiap orang berkewajiban memberi perpuluhan. Yang lalai akan terkena sanksi.” Para pendeta yang duduk di depan saya langsung bertepuk tangan. Ada pula yang berbisik, ”Gereja kita akan jadi kaya! Nanti kita dapat Mercedez Benz!”

PERLAWANAN
Tiba-tiba ketua sidang berkata, ”Di sini saya melihat Pak Andar. Pak Andar ini sudah 35 tahun menjadi pendeta. Saya minta Pak  Andar memberi pandangan tentang piagam ini. Tetapi harus pakai ayat Alkitab.”

Dengan ragu-ragu saya berdiri dan berkata, “Saudara sekalian, dalam Roma 13, saya lupa tepatnya ayat berapa….” Tiba-tiba seorang ibu yang duduk paling depan menyodorkan Alkitab sambil berkata, “Bapak pakailah ini. Bapak bacalah bunyi ayat yang tepat.”

Saya membuka Alkitab dan melanjutkan, ”Pada ayat 4 tertulis: ‘Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu.’ Saudara sekalian, pemerintah mempunyai otoritas mengatur rakyat dalam bidang ketertiban, keamanan, sosial, ekonomi dan sebagainya. Kalau bidang-bidang itu diatur oleh pemerintah, itu mendatangkan kebaikan untuk rakyat. 

"Sebaliknya, ada bidang-bidang yang tidak patut diatur oleh pemerintah, sebab kalau diatur oleh pemerintah justru akan merugikan rakyat, misalnya urusan mencari jodoh, mengatur rumah tangga, mendidik anak dan juga memilih agama serta mengatur kehidupan beragama. Itu urusan pribadi tiap orang. Agama tidak perlu diakui dan juga tidak perlu diurus oleh pemerintah. Beragama atau tidak, itu adalah hak yang paling asasi pada seorang individu. Pelaksanaan kehidupan beragama adalah urusan pribadi yang tidak boleh diatur apalagi diwajibkan oleh institusi di luar dirinya.”

Hadirin memelototi saya dengan wajah tegang. Lalu saya berkata lagi, “Pengaturan dan pewajiban itu justru akan merugikan agama itu sendiri, sebab yang akan timbul adalah kemunafikan. Beribadah sepatutnya timbul dari kesadaran, bukan dari kewajiban. Tugas saya sebagai pendidik adalah membuat umat berminat untuk beribadah. Kalau umat sampai harus diwajibkan beribadah, itu berarti saya adalah pendidik yang tidak becus. Kalau kita beragama hanya karena takut sanksi, maka kita cuma berpura-pura. Ini bukan kesaksian. 

"Bahkan ada kemungkinan, pemerintah juga hanya berpura-pura dan para pejabat rajin mempertunjukkan diri hadir pada upacara agama, padahal di belakang itu mereka korup. Sebab itu dukungan kita kepada pemerintah selalu bersifat kritis dan selektif. Menurut Roma 13, pemerintah bisa benar dan baik, namun menurut Wahyu 13 pemerintah juga bisa keliru dan jahat. Kesimpulannya, piagam yang mewajibkan penduduk menjalankan agama justru akan membuat rakyat menjadi kerdil dan tidak dewasa. Piagam ini sama sekali tidak bersifat mendidik. Sebab itu, saya menolak piagam ini. Sekian.”

PEMUNGUTAN SUARA
Suasana menjadi sunyi. Tidak ada yang bertepuk tangan. Ada satu dua orang yang mengangguk. Namun kebanyakan orang tampak gelisah dan marah. Mereka menggeleng-gelengkan kepala. Dari belakang terdengar suara-suara ejekan, “Ah, Pak Andar cuma sok pinter!”

Lalu berdirilah seorang bapak yang berwajah garang. Ia berteriak, ”Itu pandangan tidak realistis. Piagam ini justru mau menolong gereja. Nanti kebaktian kita jadi penuh dan persembahan melimpah. Tidak ada orang yang berani jalan-jalan ke mal hari Minggu. Siapa tidak hadir dalam ibadah akan dihukum penjara satu minggu. Siapa tidak memberi perpuluhan akan dipenjara satu bulan. Ini bagus,bukan? Orang jadi takut pada Tuhan. Dan  firman Allah bersabda: semua orang harus takut pada Tuhan.”

Hadirin langsung menggema,”Haleluyah!” Lalu ketua sidang menegaskan ,” Sekarang lebih baik kita memungut suara saja.” Lalu dengan  cepat kertas suara dibagi, diisi dan dihitung.

Ketua sidang kemudian mengumumkan,”Anggota majelis yang terhormat, jumlah kertas suara ada 420. Hasilnya sebagai berikut: Abstain 7; Menolak 13; Setuju 400. Jadi, sidang menyetujui piagam ini! Berlaku mulai saat ini! Sekian! Sidang ditutup! Tuhan  memberkati!”

Saya meninggalkan tempat dengan loyo. Sungguh keliru bahwa kita mengundang pemerintah mencampuri urusan pribadi kita. Ini betul-betul keliru, masakan orang diawasi dan dipaksa untuk beribadah.

PERINTAH PENANGKAPAN
Tiba-tiba pintu rumah saya diketuk. Ada empat orang polisi masuk. “Maaf, Pak Pendeta, kami membawa surat penangkapan. Bapak harus masuk penjara. Bapak telah melanggar piagam kewajiban hidup beragama!”

Saya heran dan terkejut. Apa-apaan ini? Belum lagi saya bertanya, polisi itu melanjutkan,”Kami punya bukti, tadi sepulangnya dari sidang di gereja, Bapak mampir di Restoran Bakmi Gajah Mada. Bapak makan satu bakmi kuah dan satu pangsit serta minum satu gelas teh.” Saya langsung membela diri, ”Benar! Tapi saya sudah bayar!”

Polisi itu berkata, ”Pak Pendeta, bukan itu soalnya. Kami ada bukti dari kamera tersembunyi. Bapak telah melanggar piagam. Bapak makan tanpa berdoa terlebih dahulu. Bapak dijerat pasal: Barang siapa lalai berdoa, dijatuhi hukuman penjara lima hari!”
Keringat saya mengucur deras. Dipenjara? Celaka tiga belas!

Tiba-tiba saya terbangun. Napas saya terengah-engah. Baju saya basah oleh keringat. Wah, untung cuma mimpi. Mengapa hubungan agama dan negara membuat saya mimpi buruk? Mengapa saya mimpi celaka tiga belas? Jangan-jangan karena ini tanggal 13. [Andar Ismail]

Kamis, 22 Mei 2014

Esensi


Komunitas yang Peduli


“Saya peduli Papua!” ujar presiden pada suatu jamuan resmi. Pada saat itu ratusan orang di Papua sedang mati kelaparan.

“Kita menganggarkan dana perbaikan nasib guru Papua”, kata tokoh DPR. Akan tetapi belum lagi dikirim ke Papua, dana itu sudah digerogoti tokoh itu. Ia membeli mobil mewah, sedangkan ibu guru Papua pergi ke sekolah menyeberangi sungai deras berpegangan pada seutas tali.

Di mimbar pendeta berkata, “Gereja di Jakarta adalah tangan kanan, gereja di Papua tangan kiri. Sebab itu kita peduli Papua!” Seusai kebaktian pendeta di Jakarta itu makan besar di restoran, sedangkan pendeta di pegunungan Papua mengorek-ngorek tanah untuk mencari ubi sebagai makan siang.

Itukah yang namanya peduli? Mei 2013 ini genap 50 tahun Papua kembali ke pangkuan RI, namun Papua ketinggalan di segala bidang. Gunung diobok-obok pertambangan dan hutan digunduli untuk dijual ke luar negeri, tetapi uangnya lari ke Jakarta, sedangkan rakyat Papua tetap merana.

Peduli memang tidaklah gampang. Di STT Jakarta dalam subpelajaran Pendidikan Kepedulian ilmu Pendidikan Agama Kristen, nyata bahwa untuk bisa peduli kita harus melewati beberapa tahap perkembangan. Paling awal adalah tahap engah atau tahu duduk perkara. Lalu tahap minat. Lalu mengamati detail. Lalu menafsirkan. Lalu memaknai. Lalu mempertanyakan diri. Lalu mengerti. Dan seterusnya. Pokoknya, tidak gampang.

Namun jelas, syarat terawal untuk bisa peduli adalah engah alias tahu persoalan. Nah, bagaimana mungkin gereja bisa peduli kalau pendetanya sendiri tidak tahu duduk perkara? Lalu bagaimana mungkin pendeta itu tahu kalau diberi tahu saja ia tidak mau tahu?  

Warga Jemaat = Penonton Sepakbola?

Ribuan penonton sepak bola itu serempak bersorak. Lalu mereka terdiam lagi dengan wajah yang tegang. Kemudian tiba-tiba mereka serempak bersorak lagi. Mereka sehati dan sejiwa. Tetapi begitu pertandingan bubar, mereka tidak peduli satu sama lain. Semua berdesak-desakan menuju pintu keluar.

Agaknya gereja juga mirip penonton sepak bola itu. Orang banyak dalam gereja itu bersorak. Mereka sehati dan sejiwa. Tetapi setelah ibadah bubar, hati dan jiwa mereka langsung ikut bubar. Mobil mereka saling berebut jalan untuk keluar dari lahan parkir. Bahkan ketika mobil mereka hampir bersenggolan, mereka mengo­mel dan saling pelotot. Padahal beberapa menit sebelumnya mereka sama-sama berseru, “Puji Tuhan!” Tidak ada satu mobil pun yang membuka jendela dan menawarkan tumpangan kepada nenek dari gereja itu yang sedang menunggu taksi. Tidak ada yang menolong kakek dari gereja itu untuk menyeberang jalan. Mereka tidak peduli satu sama lain.

Apa artinya peduli? Sering peduli diartikan secara sempit. Peduli cuma diartikan menyumbang. Partai yang membagi sembako meng­aku diri peduli, padahal itu cuma bagi-bagi dengan tujuan mencari muka.

Peduli punya arti yang lebih dalam. Peduli berarti prihatin, mem­bela, mengindahkan, menghargai, mencukupi, melindungi, memeli­hara, dan merawat.

Gereja dimaksudkan supaya menjadi komunitas orang-orang yang saling peduli. Rasul Paulus menulis, “... jika satu anggota men­derita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersuka cita” (1 Kor. 12:26).

Tetapi mana mungkin gereja menjadi komunitas saling peduli? Saling kenal pun tidak. Jangankan sesama anggota, pendeta pun tidak kenal anggotanya. Lagi pula, meskipun saling kenal sama sekali belum berarti bahwa anggota-anggota komunitas itu saling peduli.

5 Macam Kematangan Diri

Untuk bersikap peduli dibutuhkan syarat-syarat kematangan diri. Paling tidak, dibutuhkan lima macam kematangan diri.

Pertama, kematangan usia. Mustahil anak di bawah usia sepuluh tahun bisa peduli. Biasanya kita belajar peduli terhadap sau­dara atau teman mulai usia belasan tahun. Tetapi ada orang dewasa, sudah menikah dan punya anak, namun belum bisa peduli. Bahkan ada orang sampai lanjut usia tetap tidak bisa peduli.
Dari mana kita belajar peduli? Sikap peduli tumbuh dalam proses perkembangan waktu karena teladan. Kita melihat pendidik kita peka terhadap pen­deritaan orang lain. Sedikit demi sedikit kita belajar peduli karena berhadapan dengan penderitaan orang lain.

Kedua, kematangan sudut pandang. Kita belajar peduli ketika kita bisa melihat keadaan, bukan dari sudut pandang kita sendiri, melain­kan dari sudut pandang orang lain. Kita belajar memahami keadaan dia dan dunianya, seolah-olah kita berada dalam dunianya itu. Kita masuk ke dalam dunia orang lain. Kita ikut merasakan dambaannya dan juga kekecewaannya. Ketika kita duduk mendengarkan dambaan dan kekecewaannya, kita bukan sekadar berada dengan dia, melain­kan berada untuk dia.

Ketiga, kematangan untuk menerima orang lain. Peduli berarti bisa menerima orang itu sebagaimana dia adanya, bukan sebagai­mana kita inginkan. Mungkin orang ini cerewet, suka mengomel, marah-marah, kurang tahu berterima kasih, mendendam dan putus asa, tetapi itulah perasaan dan keadaannya.

Jika kita peduli pada orang itu, maka perasaannya yang terburuk pun kita sikapi dengan serius. Di sini terletak kelemahan banyak pendeta karena pendeta sering kali menanggapi perasaan itu justru dengan menghalangi komunikasi. Pendeta itu berkata, “Ibu anak Tuhan, Ibu tidak boleh membenci.” Padahal yang diperlukan ibu ini bukan pemberitahuan tidak boleh membenci, melainkan cara mengolah dan mengatasi perasaan bencinya.

Keempat, kematangan untuk menerima diri sendiri. Peduli ber­arti bertindak sebagaimana kita adanya. Kalau ketulusan kita hanya satu liter, janganlah kita mengobral perkataan sebanyak sepuluh liter. Kalau kita merasa setengah terpaksa, jangan kita memakai topeng muka senyum serba manis. Kalau kita melakukan ini sekadar kewajib­an, jangan kita sebut ini pelayanan. Kita tidak bisa peduli selama kita masih berpura-pura.

Kelima, kematangan untuk memberi diri. Memberi waktu, mem­beri tenaga dan memberi suatu pemberian sungguh mulia. Tetapi peduli berarti lebih dari itu. Peduli berarti memberi diri sendiri. Hubungan kita dengan dia bukan lagi sekadar hubungan dua entitas seperti hubungan kursi dan meja, melainkan kita memandang dia sebagai bagian dari kita dan memandang diri kita sebagai bagian dari dirinya. Kita membuat diri menjadi orang andalannya.

Menjadi Seperti Kristus Bagi Sesama
Itulah kedalaman arti sikap peduli. Buah dari sikap peduli adalah bahwa hidup dia menjadi hidup kita dan hidup kita menjadi hidup dia. Kita saling melibatkan diri. Kita mempedulikan dia seperti kita mempedulikan diri kita sendiri. Mungkin itu maksud Kristus ketika Ia menyuruh, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:39).
Gereja disuruh menjadi komunitas yang peduli, baik ke dalam maupun kepada masyarakat luas. Sebagaimana Kristus telah mem­pedulikan kita, begitulah kita disuruh untuk mempedulikan orang lain.
Tangan kita berubah menjadi tangan Kristus ketika kita menyuapkan sesendok bubur ke mulut nenek jompo. Senyum kita berubah men­jadi senyum Kristus ketika kita melihat nenek itu menikmati bubur tadi. Telinga kita berubah menjadi telinga Kristus ketika kita mendengar­kan rintihan nenek itu. Air mata kita berubah menjadi air mata Kristus ketika ikut menangis dengan nenek itu. (Andar Ismail)