Rabu, 11 Juni 2014

Inspiring Word



Berjalan Bersama Allah

Keyakinan yang kita miliki untuk menghadapi hari esok berakar dari kualitas perjalanan kita bersama dengan Allah hari ini. (Francis Frangipane)

Kita mencari Allah karena kita membutuhkan Allah, hanya di dalam Allah kita hidup, bergerak dan menemukan siapa diri kita sesungguhnya. (A.W. Tozer)


Saya percaya bahwa kita seringkali diizinkan mengalami masa-masa sulit dan kesedihan agar kita bisa melihat wajah Allah, dan berdiam diri dengan iman percaya hanya kepada-Nya saja.
(D.L. Moody)
 

Kafe Etos



RAJA YANG LEMAH

"Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain." (Kol. 3:16a)

Konon di negeri Antah Berantah memerintahlah seorang raja yang bijaksana. Apa  pun yang dititahkannya selalu dikerjakan para punggawanya dengan segera. Namun, para abdi istana itu punya satu kebiasaan buruk: terlalu suka mencari perhatian, menjilat, dan angkat telur.

Kalau kebetulan berjalan beriringan, mereka akan berlomba-lomba “menyenangkan” hati raja dengan cara memuja-mujinya. Yang satu berkata: Tuanku adalah raja yang paling bijaksana di dunia; tak ada raja lain di muka bumi ini yang melebihi kebijaksanaan baginda. Yang lain tidak mau kalah: Kita sungguh bahagia memiliki raja yang amat perkasa; tidak pernah kalah di dalam perang, semua tunduk belaka di hadapan raja kita. Tidak mau ketinggalan, punggawa lain bersuara: Baginda raja kita memang luar biasa; jangankan bala tentara musuh, flora dan fauna pun akan tunduk dengan takzim bila tuanku lewat.  

Demikianlah mereka menghalalkan segala pujian untuk mencari muka. 
Lama kelamaan, raja makin muak dengan semua perlakuan tersebut dan mulai menyusun rencana untuk memberi sebuah pelajaran.  

Menguji Penjilat
Suatu hari, raja mengajak para punggawanya berjalan-jalan di pantai. Seperti biasa, para abdi kraton ini kembali berlomba-lomba mengeluarkan puji-pujian gombal.  

Raja yang kehilangan kesabarannya itu pun berujar, “Kalian mengatakan bahwa aku adalah seorang raja yang paling hebat di muka bumi, benarkah begitu?” 
“Ya, benar, Baginda. Itu jelas belaka, semut dan ngengat pun tahu. Apa saja yang Baginda perintahkan pastilah terjadi,” seperti koor yang bergaya kanon para punggawa itu menjawab. 

“Betulkah kalau aku memerintahkan rakyat membayar pajak, mereka akan mematuhinya?” 
“O, sudah pasti, sudah pasti yang mulia,” para punggawa itu berlomba cepat menjawab. 

“Aku juga pernah mendengar, karena keperkasaanku semua makhluk di dunia akan tunduk kepada perintahku. Benarkah itu?” 
“Benar, Baginda. Segala titah raja pasti dituruti oleh apa pun dan siapa pun di muka bumi.” 

Tanpa disadari, mereka sudah menginjakkan kaki di bibir laut. Lalu raja bertanya lagi, “Apakah betul kalau aku memerintahkan agar gelombang laut menari-nari, gelombang ini akan menurut?” 

Para punggawa itu tiba-tiba terdiam dan berangsur pucat.
Lalu dengan gaya yang gagah dan megah raja pun berseru, “Wahai lautan luas, samudera biru, aku memerintahkan kamu untuk bergelora dan membentuk gelombang besar, lalu bergulung-gulunglah untukku dan menarilah di hadapanku.”

Tetapi air laut ternyata tidak tunduk kepada perintah raja. Berkali-kali raja berseru demikian, namun laut tetap seperti sedia kala. Gelombang yang datang tetap saja kecil yang dengan lembutnya menyapa dan mengempaskan diri ke pantai.  

Raja mengalihkan pandangannya kepada para abdinya. Mereka hanya bisa terdiam, membisu, tidak mampu berkata-kata karena malu. 
“Wahai para abdi dan punggawaku, ternyata aku tak sehebat seperti yang kalian sanjung selama ini. Lihatlah laut ini. Mereka sama sekali tidak tunduk kepada perintahku. Aku ternyata tidak sanggup memerintah mereka. Aku ini manusia biasa saja seperti kalian, seorang anak manusia yang ditakdirkan menjadi raja.
Raja maha perkasa seperti yang kalian bilang itu adalah Tuhan serwa sekalian alam, sembahan kita semua. Untuk itu, aku perintahkan kalian: agar mulai sekarang jangan  mendewa-dewakan aku lagi.” 
 ***

Seni Mendidik dan Menegur

Banyak wajah seni yang kita tahu: seni pahat, tari, lukis, puisi, pentas, dan sebagainya. Tetapi, seni yang kita pelajari dari kisah di atas adalah seni mendidik dan seni menegur.

Raja memberikan pelajaran yang penting dan berharga kepada para punggawanya dengan cara yang kreatif dan efektif. Itulah salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, guru, dan orangtua karena memang: kepemimpinan, keguruan, dan keorangtuaan adalah sebuah seni.

Seni diperlukan bukan saja untuk memimpin, tetapi dalam semua aspek pekerjaan kita: produksi, transportasi, komunikasi, motivasi, pemecahan masalah, perencanaan, pemasaran, keuangan, dan sebagainya.
Kita semua dianugerahi Tuhan dengan bakat atau talenta yang beragam. Manfaatkanlah itu saat berolah kerja, niscaya kita akan berkembang menjadi orang yang lebih kreatif dalam menyelesaikan pekerjaan kita. 

Gagasan untuk Diterapkan:
1.      Anda didera masalah berat? Berfantasilah seolah-olah Anda  dianugerahi Tuhan dengan serba kemampuan memecahkan masalah itu. Apa saja solusi yang muncul di benak Anda?
2.      Dapatkah Anda membayangkan bola voli berbentuk kotak, rumah berbentuk spiral, atau istana di dasar laut? Dapatkah Anda membayangkan diri  menjadi Superman yang bisa mengatasi korupsi dan kemiskinan di Indonesia? Cobalah lagi berfantasi seperti zaman dulu saat masih anak-anak.
3.      Mohonlah anugerah Roh Kudus dalam bentuk kreativitas untuk memecahkan masalah Anda.

(Jansen Sinamo)

Selasa, 10 Juni 2014

My EQ



Investasi Kebaikan

Alkisah, pada masa pemerintahan kekaisaran Qing, ada seorang pedagang bernama Zhang. Ia hendak menyeberang Sungai Yang Tze menuju kota Nanjing. Namun setelah menyeberang, ia kepagian. Pintu gerbang kota masih tertutup. Maka, ia meletakkan  barang-barangnya sementara ia beristirahat.

Beberapa saat kemudian, pintu gerbang dibuka dan saking bersemangatnya, Zhang masuk ke gerbang kota dan barangnya ketinggalan. Setelah berkeliling beberapa saat, barulah ia sadar barangnya tertinggal. Lalu, ia kembali ke depan pintu gerbang kota. Dengan hati berdebar-debar, ia mencari barang-barangnya yang sudah tidak ada di tempatnya. 

Namun, di samping pintu gerbang kota, ia bertemu seorang kakek tua yang menyapanya. “Saya menemukan barang-barang ini di depan gerbang. Apakah ini milikmu?” tanya si kakek. Si pedagang merasa lega dan berkata, “O ya, betul Kakek. Itu barangku dan di dalamnya ada dua kantong perak.” 

Dan ketika diperiksa, kedua kantong perak itu masih utuh. Si pedagang itu begitu berterima kasih dan melanjutkan liburannya. Melihat sikap Zhang, sebenarnya si kakek ini agak menggerutu dalam hatinya. Ia berharap, mungkin akan mendapatkan beberapa keping perak sebagai imbalan atas kebaikannya.

Singkat cerita, setelah beberapa hari di Nanjing, si pedagang Zhang ingin pulang menyeberangi Sungai Yang Tze. Sebelum sempat naik ke kapal, terjadilah angin puting beliung yang amat mengerikan. Banyak rumah yang porak poranda dan kapal-kapal dari kejauhan pun tampak terbalik dan tenggelam. Untungnya, Zhang belum naik kapal. 

Namun, dari kejauhan hatinya pun tergerak. Ia pun berpikir, “Di kantongku masih ada beberapa uang perak yang sebenarnya mungkin saja sudah akan hilang kalau bukan karena kebaikan seorang kakek. Sekarang mungkin saatnya aku kembalikan uang itu dengan kebaikan yang lain.”
 
Maka, setelah agak reda angin badainya, ia membayar beberapa perahu untuk menyelamatkan orang-orang dan perahu yang tampak tenggelam. Akhirnya, berkat usaha pedagang Zhang, banyak orang yang diselamatkan. Dan tahukah Anda, salah satu orang yang terselamatkan? Dia adalah anak dari kakek yang telah mengembalikan kantong perak itu!

Pelajaran Moral Soal Kebaikan

Dari kisah di atas, kita sungguh belajar, kebaikan hati bukanlah matematika. Ketika kita menabur satu kebaikan, kembalinya tidak selalu satu. Kadang kembalinya bisa seratus, bahkan bisa tidak ada kembalinya. Karena itu, banyak orang yang melakukan kebaikan dengan harapan akan menerima pahalanya langsung, seringkali akan merasa sangat kecewa.  Banyak orang yang melakukan kebaikan hati lantas berhitung seperti hitungan investasi modal atau tabungan.

Kebaikan, pada dasarnya tidaklah bekerja seperti itu. Kadangkala, ketika kita melakukan kebaikan, hasilnya dan keuntungannya tidak langsung bisa dirasakan. Bahkan, terkadang ketika melakukan hal yang baik, orang yang menerimanya tidak mengucapkan sepatah kata terima kasih pun. Tetapi, yang namanya kebaikan, bukanlah hitungan untung rugi. Suatu ketika, kita mungkin akan dibalas, mungkin juga tidak, tidak pernah ada yang tahu. Yang jelas, kebaikan adalah investasi yang kita terima bunganya di surga, bukan di dunia. Kalaupun di dunia ini kita menerimanya, anggaplah sebagai bonus!

Kisah di atas juga mengingatkan kita bahwa balasan atas kebaikan Anda, mungkin bukan Anda yang akan menerimanya. Saya teringat kisah seorang rekan saya yang suatu ketika keluarganya ditolong karena kabaikan hati orangtuanya. Ternyata, orang yang menolongnya masih ingat, bahwa ketika dirinya susah, ia pernah dibantu oleh ayah rekan saya tersebut. Jadi, kebaikan yang pernah dilakukan oleh ayahnya kini berbalik menjadi berkat untuk keluarga mereka.

Saya punya personal story. Ayah saya adalah seorang yang luar biasa baiknya. Bahkan untuk mengenangnya, ada sebuah bukit di daerah Toho-Menjalin daerah Kalbar yang diberi nama dengan nama ayah saya. Bukit Song Fa namanya. Padahal ayah saya hanya seorang petani dan sopir bis kota. 

Namun, masyarakat begitu mengenang kebaikannya. Bahkan lama setelah ayah meninggal, keluarga kami masih sering merasakan “bunga” kebaikannya dalam bentuk pertolongan dan bantuan, pada saat keluarga kami kekurangan dan kesulitan. Nah, itulah yang disebut buah investasi kebaikan. Sulit dimengerti dengan logika dan matematika. So, just be kind! (Anthony Dio Martin)

Senin, 09 Juni 2014

Inspiring Words

DOA ADALAH KEMUDI

Doa bukanlah “ban serep” yang dapat kita keluarkan ketika dalam masalah, tapi “kemudi” yang menunjukkan arah yang tepat.

BELOKAN
Sering kali ketika kita hilang harapan dan berpikir ini adalah akhir dari segalanya, Tuhan tersenyum dan berkata, ”Tenang sayang, itu hanyalah belokan, bukan akhir!"

KEPERCAYAAN
Ketika Tuhan memecahkan masalahmu, kamu memiliki kepercayaan pada kemampuanNya; ketika Tuhan tidak memecahkan masalahmu, Dia memiliki kepercayaan pada kemampuanmu.