Tampilkan postingan dengan label Chicco Jerikho. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chicco Jerikho. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Agustus 2015

Spotlight



Chicco Jerikho
BERKAT MELALUI DOA ORANGTUA


Keluarga memiliki peran penting bagi hidup dan karier Chicco Jerikho Jarumillind yang menjadi cover INSPIRASI kali ini.

Beberkal Juara 1 Pemilihan Wajah Remaja Revlon Indonesia dan Coverboy ANEKA Yess 2000, pria kelahiran Jakarta, 3 Juli 1984 ini mengawali karier sebagai model remaja. Butuh 5 tahun bagi Chicco hingga ia mendapat peran di sinetron perdananya Cinta Bunga di Global TV dan 7 tahun kemudian ia baru mengawali akting di layar lebar Lawang Sewu.

Setelah cukup lama di sinetron, nama Chicco makin bersinar melalui perannya sebagai Sani Tawainella dalam film Cahaya dari Timur: Beta Maluku. Berkat totalitasnya, Chicco diganjar Piala Citra untuk kategori Pemeran Utama Pria Terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) 2014. Selain itu, ia juga meraih Piala Maya 2014.

Pada ajang Indonesian Movie Awards 2015, Chicco kembali menyabet dua penghargaan sekaligus, sebagai Pemeran Utama Pria Terfavorit dan Pemeran Utama Pria Terbaik.

Memaknai keberhasilannya, Chico menyebut Tuhan dan keluarga sangat berperan dalam hidup dan kariernya. “Selama ini ya kalau bukan karena Tuhan siapa lagi? Kayak tahun kemarin bisa dapat Citra, itu hadiah Natal yang luar biasa. Dapat Piala Maya, dapat film terbaik juga. Mintanya pingin main film, tapi bonusnya dapat penghargaan. Yang penting kita berusaha, Tuhan yang berkehendak dan yang memberkati,” ujar warga Gereja Duta Injil ini.

Lahir dari pasangan Chana Jarumillinal yang berdarah Thailand dan Debby Panggabean, spiritualitas Chico tumbuh di tengah keluarga yang beribadah di HKBP Jl. Jambu, Menteng, Jakarta. Doa dari orangtua selalu menyertai bungsu dari dua bersaudara ini setiap berangkat sekolah dan bekerja. “Setiap mau pergi pasti pamit. Sebelum pergi ditumpang tangan oleh orangtua dan berdoa buat saya. Sampai detik ini,” ujarnya.

Relasi Chico dengan orangtuanya memang sangat dekat, terlebih ia juga masih tinggal bersama orangtua. “Biasanya sebelum aktivitas kita kumpul bersama keluarga, doa bersama-sama, juga kalau lagi nggak ada aktivitas,” tambahnya.

Orangtua Chico juga mengajarkan untuk bersyukur dan tidak pernah melupakan segala sesuatu. “Kita selalu mensyukuri apa yang ada sekarang. Jangan pernah kita fokus pada apa yang akan kita capai. Lihat juga ke belakang, apa yang sudah kita dapat untuk lebih bersyukur,” tandasnya.

Nah, bagaimana dengan kita? O iya, Chico masih single lho..

Sabtu, 26 Juli 2014

Kabar Kita



Seputih Cinta Melati
KADO LEBARAN DARI ALENIA

"The child is father of the man...." (William Wordsworth)

Menyambut Hari Lebaran, Alenia Pictures mempersembahkan film untuk anak dan keluarga, Seputih Cinta Melati. Berbeda dengan film-film sebelumnya, kali ini rumah produksi yang didirikan pasangan suami istri Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen itu membuat film keluarga bergenre religi.

Menurut Ale, sapaan akrab Ari Sihasale, ia sengaja mengusung tema keluarga dan anak-anak karena tidak ingin anak-anak kehilangan tontonan yang sesuai dengan umurnya. "Kita lebih concern ke dunia anak dan keluarga," ujarnya.

Sementara bagi Nia, hadirnya film religi ini juga sebagai kado dari sang suami yang kristiani. "Ini adalah hadiah dari Mas Ale untuk saya karena dibuatkan film untuk Lebaran," ujarnya.

Seputih Cinta Melati berkisah tentang dua tokoh kecil bernama Rian (Fatih Unru) dan Melati (Naomi Ivo) yang masih lugu dan polos. Keduanya secara tak sengaja menolong dua buronan polisi, Erik (Asrul Dahlan) dan Ivan (Chicco Jerikho). Kedua kakak beradik ini senang mendapat teman baru. Ketika mereka hendak memancing, kaki Melati terperosok yang kemudian ditolong oleh Ivan dan Erik.

Banyak pesan yang ingin disampaikan melalui film besutan Ari Sihasale yang juga dibintangi oleh Sabai Morscheck ini. Ketulusan, kejujuran, dan kepolosan hati anak-anak yang dapat mengubah orang dewasa, toleransi beragama, dan juga mengajak masyarakat untuk lebih menjaga anak-anak dari korban kejahatan. Selain pesan moral dan sosial, film berdurasi 107 menit ini juga dibumbui beragam peristiwa aktual di Indonesia.

Beberapa adegan dibuat sebagai sindiran atau semacam satire sosial. Misalnya ketika Pak Haji melaporkan kehilangan gamis yang sedang dijemur kepada Briptu Yana. Sesampainya di TKP, polisi yang dekat dengan masyarakat itu tanpa basa-basi langsung memutus tali jemuran sebagai barang bukti. Baju-baju yang dijemur pun berhamburan ke tanah. Hal ini tentu mengejutkan Pak Haji. Atau seribu jurus kampanye Kang Asep yang menjadi tim sukses calon anggota legislatif bernama Abdi.

"Film ini kami buat khusus untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri. Ada juga pesan-pesan untuk kampanye. Kita coba masukkan sedikit pesan-pesan tentang kampanye walaupun tidak terlalu banyak. Mudah-mudahan pesan-pesan yang sederhana itu bisa menyentil penonton," jelas Ale.

Belajar dari Anak-anak
Sebagaimana trade mark film Alenia, selalu ada cara mengomunikasikan keindahan Indonesia. Dalam film ini penonton disuguhi gambar-gambar panoramik indah dari alam Priangan yang jelita. Shooting mengambil tempat antara lain di perkebunan teh Rancasuni, Ciwidey, Bandung, Jawa Barat, dan desa sekitarnya.

Alenia memang piawai dalam mencari tempat-tempat yang bukan spot  turis namun sangat indah untuk dijadikan lokasi shooting. “Suasananya lokal sekali, kental kekeluargaannya. Cocok dengan jalan cerita Seputih Cinta Melati. Di sana tim artistik kami menyulap hutan pinus menjadi sebuah danau lengkap dengan pondok dan dermaga mungil,” kisah Ale.

Keindahan alam menjadi panggung penyampai pesan tentang hati tulus anak yang meluluhkan kekerasan hati orang dewasa yang membatu.

Pujangga Inggris, William Wordsworth pernah menulis: "The child is father of the man...." Maksudnya, anak kadang lebih bijak daripada orang dewasa. Orang tua bisa belajar dari anak. Seperti itulah para buron dalam film Seputih Cinta Melati yang belajar pada tokoh Melati, bocah polos yang berhati seputih melati.

"Film ini tentang ketulusan hati dan kasih sayang dari anak-anak kecil yang bisa mengubah perilaku orang dewasa. Kita bisa belajar dari sifat ketulusan anak-anak," tutur Nia selaku produser.
Selain tentang Ramadan, tambah Nia, film ini juga berpesan supaya orangtua lebih hati-hati menjaga anak-anak karena sekarang banyak kejahatan terhadap anak-anak." [g]